Mengapa Anda memilih POM-POM School ?



The NHE Way
POM-POM School menerapkan sistem Pendidikan Neo-Humanis (Neo-Humanistic Education atau NHE). Pendidikan Neo-Humanis adalah pendidikan manusia seutuhnya: fisik, mental, dan spiritual. Inti dari Pendidikan Neo-Humanis adalah membangkitkan Cinta Kasih Universal yang bersemayam di dalam setiap orang dan di dalam setiap makhluk lainnya. Metode yang kami gunakan diistilahkan dengan ‘The NHE Way’ yang merupakan perpaduan antara metode mutakhir Barat dengan pendekatan holistik budaya Timur.
The NHE Way adalah metode yang sangat efektif dalam mengembangkan kemampuan anak diberbagai bidang, seperti membaca, menulis, matematika, bahasa, seni, dan lain-lain terutama pada anak-anak usia dini. Dengan metode NHE anak-anak usia dini bisa belajar dengan kepesatan yang menakjubkan.
Kesalahan dalam mendidik dan mengajar akan berakibat fatal bagi perkembangan anak selanjutnya, karena pada saat anak memasuki tahap pemikiran analitik, mereka kehilangan ‘scope’ untuk mengembangkan  intelegensi holistik. Metode NHE sangat sesuai dengan perkembangan psikologi anak; apa yang diajarkan sejalan dengan bagaimana cara mengajarkannya.  “Belajar” nampak sebagai ‘bermain’, sehingga menyenangkan dan tidak membuat anak-anak merasa tertekan. Prinsip utama dalam metode ‘The NHE Way’ adalah ‘Play method’ (belajar sambil atau terasa bermain).


Penggunaan Bahasa Inggris
Suka maupun tidak suka, kita semua mesti menerima bahwa Bahasa Inggris sudah merupakan bahasa Global yang utama. Maka di era globalisasi yang serba canggih sekarang ini sangatlah penting menguasai bahasa dunia, jika tidak maka kita akan ketinggalan dengan bangsa-bangsa lainnya.
Syukurnya kini masyarakat kita semakin menyadari betapa pentingnya menguasai bahasa Inggris, dan seiring dengan kesadaran itu makin tinggi pula animo para orang tua untuk memperkenalkan bahasa Inggris kepada putra-putrinya sejak usia dini.
Atas kesadaran yang sama dan dalam rangka menjembatani keinginan masyarakat maka POM-POM School juga menerapkan penggunaan bahasa Inggris selain bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Sesungguhnya anak-anak usia dini dapat diajarkan multi bahasa (banyak bahasa), namun kami fokus hanya dalam penggunaan bahasa Indonesia dan Inggris.

Yoga asanas & Quiet time
Kami telah memperkenalkan yoga kepada anak-anak usia dini sejak berdirinya POM-POM School pertama di Monang-Maning pada tahun 1998.  Di saat-saat awal berdirinya POM-POM School ada beberapa orang tua siswa yang keberatan anaknya diajari yoga karena mereka menganggap bertentangan dengan ajaran agamanya/kepercayaannya. Kami berusaha menjelaskan apa itu yoga dan apa manfaatnya untuk anak-anak dan sebagaian besar mereka akhirnya bisa menerima. Hanya ada satu orang anak yang dipindahkan sekolah karena alasan yoga walaupun tidak diutarakan secara langsung kepada kami.
Namun kini sudah banyak sekolah-sekolah PAUD yang mengajarkan yoga karena masyarakat sudah semakin melek kesadarannya dan semakin terbuka pemikiran serta cara pandangnya.
Praktek yoga di POM-POM School meliputi asanas dan ‘quiet time’.

Asanas adalah suatu postur atau gerakan tertentu yang banyak di antaranya menirukan postur-postur binatang.
Yang dimaksud ‘quiet time’ adalah duduk diam sambil melakukan visualisasi dengan mata terpejam (Close your eyes…. and see… ).
Jika dijabarkan manfaat yoga tentu banyak sekali. Yang utama manfaat yoga bagi anak-anak adalah membuat pikirannya lebih tenang & lebih fokus, lebih terkendali prilakunya, lebih percaya diri, dan tentu saja lebih sehat.


Pendidikan Anak Usia Dini 

Jangan Dianggap Sepele

Usia di bawah enam tahun adalah usia yang paling kritis atau paling
menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian seseorang. Begitu juga pengembangan otak dan intelegensi hampir seluruhnya terjadi pada usia di bawah enam tahun. Kalau seseorang sudah terlanjur menjadi pencuri, koruptor atau penjahat, maka pendidikan Universitas bagi orang tersebut boleh dikatakan tidak berarti apa-apa. Sebagaimana halnya sebatang pohon bambu, kalau sudah tua susah dibengkokkan.

Anak-anak pada usia di bawah enam tahun memiliki intelegensi laten (potential intelegence) yang luar biasa. Namun pada umumnya para orangtua dan guru di sekolah hanya bisa mengajarkan sedikit hal pada anak-anak. Sesungguhnya anak-anak usia muda tidak “complicated” (ruwet) dalam belajar, tetapi orangtua atau guru yang sering bermasalah. Pada umumnya kita selalu menyalahkan anak-anak apabila tingkah laku mereka tidak seperti yang kita inginkan. Hal ini lebih banyak disebabkan karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman kita terhadap perkembangan jiwa anak, sehingga kita sering memperlakukannya dengan tidak/kurang tepat.

Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang luar biasa dan kemampuan untuk menyerap informasi sangat tinggi. Kebanyakan orang tidak mengenali dan memahami kemampuan 'magic' yang ada pada anak-anak. Mereka hanya bisa berkata, "Saya tahu anak-anak belajar lebih cepat", tetapi mereka tidak tahu seberapa cepat anak-
anak bisa belajar. Karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan orang tua dan guru-guru maka potensi luar biasa yang ada pada setiap anak sebagian besar tersia-siakan. 

Umumnya orang siap mengorbankan waktu bertahun-tahun dan uang berjuta-juta rupiah untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi ; untuk apa ? --- untuk mendapatkan sedikit tambahan intelegensi, karena sedikitnya kemampuan sel-sel otak yang tersisa. Sebaliknya orang kurang memperhatikan pendidikan anak-anak pada usia muda.

Anak-anak usia belia memiliki bermilyar-milyar sel-sel syaraf otak yang sedang ber-kembang dan memiliki kemampuan yang dahsyat….serta daya memory yang kuat. Maka pendidikan yang me-nanamkan nilai-nilai luhur kemanusiaan (pengembangan intelegensi/kecerdasan, karakter, kreativitas, moral, dan kasih sayang universal) sangatlah perlu diberikan pada anak-anak sejak usia dini.

Pendidikan Anak Usia Dini tidak boleh dianggap sepele dan diabaikan. Bahkan pendidikan bayi sejak usia nol tahun (baru lahir) atau bahkan sejak bayi masih dalam kandungan sudah saatnya dikembangkan.

Guru-guru dan fasilitas yang terbaik semestinya diprioritaskan pada
lembaga Pendidikan Anak Usia Dini. Dedikasi yang tulus dari guru-guru dan dukungan sepenuhnya dari orangtua anak akan menjamin keberhasilan pendidikan anak-anak. 

Pendidikan Neo-Humanis

Menurut para ilmuwan, potensi manusia itu sungguh tak terbatas, akan tetapi hingga tingkat peradaban sekarang ini kita baru menggunakan hanya satu persen saja dari seluruh potensi tersebut.
Apabila benar demikian, maka tugas paling utama pendidikan ialah“menimba keluar” seluruh potensi yang dimiliki oleh setiap manusia agar setiap manusia menjadi manusia seutuhnya, komplit. Dan inilah memang tugas Pendidikan Neo Humanis, di mana dilakukan upaya-upaya secara terpadu untuk menyadap potensi tertinggi di dalam diri setiap anak, pada setiap waktu dan setiap tempat.

         Pendidikan Neo-Humanis memberikan pendidikan kepada keseluruhan bagian yang membentuk anak itu : bukan hanya menghafalkan informasi dan menjejalkannya kepada intelek, atau melatih anak menjadi robot agar guru menjadi senang karena anak itu akan mengeluarkan jawaban-jawaban yang dikehendaki yang dikatakan sebagai  “benar”.
Pendidikan Neo-Humanis hendaknya diberikan kepada anak-anak sejak usia dini. Itulah sebabnya Shrii P.R. Sarkar, pelopor Pendidikan Neo-Humanis, menganjurkan untuk mendirikan lebih pusat-pusat Pendidikan Anak Usia Dini yang menerapkan sistem pendidikan Neo-Humanis. Kenapa P.R. Sarkar tidak menganjurkan mendirikan lebih banyak Perguruan Tinggi ? Dalam kenyataannya perkembangan seseorang
sebagian besar terjadi pada usia di bawah 6 tahun. Pada periode usia ini anak-anak membentuk struktur kognitif dan kepribadian dirinya yang akan menentukan jalan hidup untuk selanjutnya.

P.R. Sarkar mengatakan bahwa pada setiap orang ada kehausan akan ‘sesuatu’ yang tak terbatas. Satu tugas terpenting dari pendidikan adalah membangkitkan keinginan akan perluasan yang tak terbatas itu --- ilmu pengetahuan yang tak terbatas. Yang harus dibangkitkan pada setiap siswa adalah perasaan, “Saya ingin mengetahui/menyatu dengan kosmos.”
Sistem pendidikan tradisional masih jauh dari usaha sedemikian ini. Harapan yang dimiliki oleh setiap anak yang lahir ternyata hancur berantakan, sebagai akibat adanya ketidak adilan yang terjadi dewasa ini. Manusia mulai seperti kupu-kupu dan berakhir sebagai kepompong.

Sudah saatnya sistem pendidikan dirancang sedemikian rupa sehingga tidak menghasilkan orang-orang yang  berpengetahuan setengah-setengah yang kemudian berkembang menjadi agresip, bingung, pembangkang dan frustrasi. Akibat selanjutnya, rangkaian jaringan sosial menjadi semakin rusak. Dilihat secara keseluruhan, semakin banyak saja anak-anak remaja yang putus sekolah, keluyuran, dan terjerumus ke dalam penggunaan obat-obat terlarang (narkoba), merusak lingkungan, terkena penyakit kelamin, minggat dari rumah, gila atau bunuh diri.

Perkembangan teknologi yang begitu pesat diharapkan bisa memberi manfaat yang sebesar-besarnya untuk kemakmuran dan kesejahteraan. Namun tidak dipungkiri bahwa kemajuan teknologi juga membawa dampak yang negatif terhadap perkembangan sosial, karakter dan kepribadian manusia.

Sudah sedemikian banyak dana dan waktu dikorbankan untuk mencoba membenahi sistem pendidikan. Tetapi sayang, banyak yang gagal, karena perhatian dipusatkan kepada sumber masalah yang keliru – yaitu dengan menambah intensitas menjejalkan informasi. Di banyak negara, “pembaharuan” di bidang pendidikan berarti menambah jam dan bahan pengajaran serta memompakan lebih banyak informasi kepada anak-anak yang sebenarnya sudah jenuh. Kesibukan menghafalkan informasi ini telah memerosotkan mutu dan martabat manusia dan menghancurkan jiwa para siswa itu. Ketika anak-anak dipandang sebagai sebuah keranjang yang fungsi utamanya menerima, menyimpan dan mengeluarkan kembali data dan fakta itu, maka proses belajar itu akan bersifat mekanistis dan para siswa yang jenuh itu akan menjadi agresif dan frustrasi atau mencari pelampiasan emosinya yang tidak terkendalikan. Kita memerlukan perubahan dan perubahan itu harus dilakukan sekarang.

Terlebih dulu kita harus mengerti apa yang dijelaskan oleh P.R.
Sarkar – dan ternyata ditunjang  oleh kaidah-kaidah ilmu fisika modern – bahwa kehadiran kita bukan sekadar kenyataan yang nampak oleh panca indera, tetapi merupakan suatu rangkaian berkesinambungan dari berbagai lapisan kesadaran yang mulai dari lapisan yang paling kasar yaitu badan jasmani, melanjut menuju lapisan-lapisan yang lebih halus yaitu lapisan-lapisan psikis, dan akhirnya sampai pada suatu medan  yang menyatu dengan kesadaran tak terbatas.
Keseluruhan lapisan psikis itu dapat diidentifikasi ke dalam 5 lapisan :

1.        Kesadaran Jaga (Conscious Mind) : PENGINDERAAN
2.        Bawah Sadar (Subconscious Mind) : INTELEK
3.        Lapisan pertama Kesadaran Supra : KREATIVITAS
4.        Lapisan kedua Kesadaran Supra : INTUISI
5.        Lapisan ketiga Kesadaran Supra : SPIRITUALITAS

Di dalam setiap kesadaran yang lebih tinggi terdapat sumber
pengetahuan yang lebih luas yang lebih memberikan kebahagiaan,
karena lapisan yang lebih tinggi ruang lingkupnya lebih luas dan
mengandung cadangan energi yang bukan main banyaknya.
Lapisan-lapisan ini bukan sekadar konsepsi teoritis kaum psikolog,
tetapi merupakan level yang berfungsi dapat dialami oleh setiap orang yang berlatih dengan penuh disiplin menjelajahi jiwanya. Tetapi sayang, pada umumnya orang tidak menyadari adanya level-level terpenting dari jiwa yang terdalam; dan kita biasanya hidup dengan dua level yang lebih rendah yaitu lapisan sadar dan bawah sadar saja.

Apa yang menjadikan Pendidikan Neo-Humanis itu unik ialah
bahwa sistem dan metode pendidikan ini secara sistematis
mengembangkan semua lapisan keberadaan manusia dan secara
berangsur-angsur mangarahkan individu menuju tujuan yang tidak
terbatas. Jadi Pendidikan Neo Humanisme ini sebenarnyalah
merupakan pendidikan keseluruhan (holistic education), karena di
dalam proses pendidikan itu tidak terdapat bagian kesadaran manusia yang terabaikan, tidak ada aspek kehidupan manusia yang tidak ditangani. Dengan memahami karakteristik eksistensi manusia secara keseluruhan maka seorang pendidik akan lebih mudah menggali metode-metode pengajaran yang lebih sesuai dengan psikologi anak didik.                                                         

Tujuan Pendidikan Neo-Humanistik :
·   Mengembangkan potensi anak sepenuhnya : fisik, mental, dan spiritual.
·    Membangkitkan kehausan akan ilmu pengetahuan dan senang (cinta) belajar.
·    Membekali anak-anak dengan kemampuan akademik dan kemampuan lainnya yang diperlukan untuk  pendidikan selanjutnya.
·    Memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan kepribadian anakyang meliputi moralitas, integritas, percaya diri, disiplin, dan kerjasama.
·    Mengembangkan kemantapan fisik dan ketahanan mental melalui yoga dan  meditasi, olahraga dan bermain.
·    Mengembangkan rasa estetika dan penghargaan terhadap kebudayaan melalui drama, tari, musik dan senirupa.
·    Mendorong anak-anak agar menjadi anggota masyarakat yang aktif dan bertanggungjawab.
·   Meningkatkan kesadaran ekologi dalam makna yang paling luas, yaitu kesadaran akan saling terkaitnya segala sesuatu, dan mendorong rasa hormat dan peduli terhadap semua makhluk.
·    Meningkatkan Pandangan Universal, terbebas dari perbedaan agama, warna kulit, jenis kelamin, dsb.
(Sumber utama : Buku Pendidikan Neo-Humanis, karangan Avadhutika Anandamitra Acarya)